WASHINGTON – Eskalasi politik di kawasan Amerika Latin semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melayangkan ancaman keras terhadap pemerintah Kuba. Langkah provokatif ini diambil hanya berselang satu pekan setelah operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari 2026.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (11/1), Trump menegaskan bahwa masa kejayaan hubungan ekonomi antara Kuba dan Venezuela telah berakhir. Ia memberikan peringatan bahwa Washington tidak akan lagi membiarkan aliran sumber daya masuk ke negara cerutu tersebut.
“Tidak akan ada lagi minyak atau uang yang mengalir ke Kuba—nol! Saya sangat menyarankan mereka segera membuat kesepakatan sebelum semuanya terlambat,” tulis Trump.
Tudingan “Layanan Keamanan” dan Keterlibatan Militer Dalam narasinya, Trump menuduh Kuba telah lama menjadi pendukung utama rezim otoriter di Venezuela. Menurutnya, selama bertahun-tahun Havana menerima pasokan minyak mentah dalam jumlah besar dari Caracas sebagai imbalan atas pengiriman personel keamanan yang bertugas menjaga stabilitas kekuasaan Maduro.
Trump bahkan menyinggung insiden berdarah pekan lalu, di mana sejumlah tentara Kuba dilaporkan tewas dalam serangan kilat pasukan AS saat meringkus Maduro. “Venezuela tidak lagi membutuhkan perlindungan dari para preman dan pemeras yang menyandera mereka selama bertahun-tahun,” tambah Trump, merujuk pada pengaruh militer Kuba di tanah Venezuela.
Respons Tegas Havana: “Hingga Tetes Darah Terakhir” Menanggapi gertakan dari Gedung Putih, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel memberikan jawaban yang tak kalah sengit. Melalui akun X resminya, Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba bukanlah negara yang bisa didikte oleh kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat yang telah menerapkan embargo ekonomi ketat selama lebih dari enam dekade.
“Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat. Kami tidak melakukan agresi, namun kami telah menjadi sasaran Amerika Serikat selama 66 tahun,” tegas Diaz-Canel. Ia juga menyatakan kesiapan rakyat Kuba untuk mengangkat senjata dan membela kedaulatan tanah air mereka “hingga tetes darah terakhir.”
Dampak Ekonomi yang Membayang Ancaman Trump ini diprediksi akan memperburuk krisis energi di Kuba. Sejak era Hugo Chavez pada tahun 2000-an, Kuba sangat bergantung pada pasokan minyak Venezuela untuk menjalankan pembangkit listrik dan transportasi domestik mereka. Jika jalur pasokan ini benar-benar diputus total oleh intervensi AS, Kuba terancam menghadapi kelumpuhan ekonomi yang jauh lebih parah dari periode-periode sebelumnya.
Kini, dunia internasional tengah memantau apakah ancaman Trump ini akan berlanjut pada aksi militer serupa seperti di Venezuela, atau merupakan strategi negosiasi agresif untuk memaksa perubahan rezim di Havana.































