LOS ANGELES – Gelombang protes internasional kini tengah membayangi persiapan Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Seruan untuk memboikot turnamen bergengsi ini meningkat tajam menyusul serangkaian kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump dan meningkatnya kekhawatiran atas stabilitas keamanan di kawasan Amerika Utara.
Kebijakan “Iron Fist” dan Protes Internasional Aksi militer Amerika Serikat di Venezuela dan ancaman diplomatik terhadap Kuba telah memicu kemarahan dari berbagai belahan dunia. Sejumlah negara, terutama dari blok Amerika Latin dan beberapa negara pendukung kedaulatan di Timur Tengah, mulai menyuarakan keberatan mereka untuk berpartisipasi dalam ajang yang sebagian besar pertandingannya akan digelar di tanah Amerika Serikat.
Para aktivis kemanusiaan dan kelompok suporter internasional berpendapat bahwa menggelar pesta olahraga di tengah situasi geopolitik yang memanas—termasuk keterlibatan AS dalam penangkapan pemimpin negara asing—bertentangan dengan semangat perdamaian yang diusung oleh FIFA.
Isu Keamanan dan Stabilitas Kawasan Selain faktor politik, masalah keamanan menjadi alasan utama di balik gerakan boikot ini. Operasi militer AS yang intens di luar negeri dikhawatirkan akan memicu aksi balasan yang dapat mengancam keselamatan pemain serta jutaan penggemar yang akan berkunjung.
Beberapa poin yang menjadi kekhawatiran utama meliputi:
-
Risiko Terorisme: Kekhawatiran akan adanya serangan balasan sebagai bentuk protes terhadap intervensi militer AS.
-
Ketegangan Perbatasan: Kebijakan imigrasi yang ketat di bawah pemerintahan Trump dianggap menyulitkan mobilitas suporter antarnegara tuan rumah (AS-Meksiko-Kanada).
-
Ketertiban Umum: Gelombang demonstrasi besar-besaran yang terus terjadi di kota-kota besar AS diprediksi akan mengganggu logistik dan kenyamanan jalannya turnamen.
Dilema FIFA dan Sponsor Utama FIFA kini berada dalam posisi sulit. Sebagai badan pengatur sepak bola dunia, mereka dituntut untuk tetap netral, namun tekanan dari pemegang hak siar dan sponsor besar mulai terasa. Boikot dari negara-negara kunci tidak hanya akan menurunkan kualitas kompetisi, tetapi juga berpotensi menyebabkan kerugian finansial hingga miliaran dolar.
Hingga saat ini, komite penyelenggara masih berupaya meyakinkan publik bahwa protokol keamanan akan diperketat dan turnamen akan tetap berjalan sesuai rencana. Namun, seiring dengan semakin panasnya situasi di Venezuela dan Kuba, suara-suara yang menuntut pemindahan lokasi atau pembatalan partisipasi kian sulit untuk diredam.































